23 Oktober 2011

Mengatasi Marah (Maw Berubah Kha)


Sifat pemarah itu berasal daripada sifat sombong (ego). Lagi  besar  ego 
seseorang lagi besar marahnya.  Ini  berkaitan pula dengan kedudukan 
seseorang. Kalau tinggi kedudukan seseorang, besar pangkatnya, banyak 
hartanya, ramai pengikutnya, maka akan tinggilah ego seseorang dan akan 
menjadi-jadilah pemarahnya. Sebaliknya jikalau kurang segalanya,  maka 
akan kuranglah egonya dan akan kurang jugalah pemarahnya.
Kita mesti ubati hati kita. Kita kita mesti membuang rasa 'ketuanan' kita 
yang  menyebabkan kita menjadi pemarah dengan melakukan mujahadatun 
nafsi. Di antara langkah yang perlu  kitahadapi untuk menghilangkan marah 
ialah :
a) Mula-mula kita perlu malu dengan Allah s.w.t akan segala tindak-tanduk 
kita. Allah  memerhatikan segala perlakuan dan sikap biadab kita.
b)  Bila  datang rasa hendak marah, ingatlah kita ini hanyalah manusia yang 
hina.
c) Banyakkan berdiam diri dan berdoa kepada Allah agar Allah selamatkan 
kita daripada sifat  marah.
d) Hendaklah ingat kesan daripada sifat marah itu mungkin akan membawa 
kepada permusuhan dan pembalasan dendam dari orang yang anda marahi.
e) Cuba bayangkan betapa buruknya rupa kita ketika kita sedang  marah. 
Ianya lebih buruk daripada perlakuan seekor binatang jikalau anda di dalam 
keadaan yang marah.
f)  Apabila datang marah, banyakkan  baca Ta'awwuz ( A'uzubillahi minas 
Syaitanirrajim ) kerana marah itu datangnya daripada syaitan.
g)  Apabila marah sedang memuncak, ambil wudhu kerana wudhu dapat 
menenangkan api kemarahan yang sedang membara.
h) Jikalau tidak boleh hilang marah dengan hal tersebut di atas, hendaklah 
tidur. Kerana ianya  akan  meredakan perasaan marah apabila bangkit 
daripada tidur
i) Tauhid kita perlu tepat. Setiap sesuatu  itu  datangnya dari Allah dan 
akan kembali kepada Allah. Kenapa kita perlu marah.
Kalau  kita bersalah, kita tidak suka  orang memarahi kita. Maka begitulah
orang lain yang  melakukan  kesilapan,  juga tidak suka dimarahi. Tegurlah 
dengan lemah lembut dan kasih sayang.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya /a/ah menciptakan langit
dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: Ayat).
Perbedaan antara manusia itu memang telah diciptakan oleh Allah SWT, dan itu merupakan sifat yang ada pada makhluk hidup. Sebaimana yang ditegaskan dalam firman Allah berikut ini: “Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.” QS. AI-Hasyr: 14). Wahbah al-Zyhaily mengomentari ayat di atas dengan pernyataan tersebut. Artinya, “Mungkin kamu mengira, mereka itu bersatu, padahal mereka terpecah belah. Kebersamaan yang terjalin hanya lahiriahnya saja, sementara kemauan, hasrat dan pendapat mereka saling bertentangan.” Tafsir al-Munir, Vol. 28, h. 98).
Berangkat dari adanya perbedaan kemauan, keinginan, kepentingan, dan perbedaan-perbedaan lainnya, kita menyadari perlunya pengendalian diri dan bersikap ernpati; Sehingga kita dapat menimbang rasa dan menakar hati orang lain, agar tidak mengecewakan atau membuat orang lain sengsara. Ketika kita dihadapkan pada permasalahan yang tidak kita sukai atau tidak kita inginkan, maka akan terjadi perubahan sikap karena didorong oleh emosi yang meledak di dalam dada. Menahan emosi atau minimal mengendalikan emosi adalah suatu perbuatan terpuji yang merupakan manifstasi dari kepribadian luhur dari seorang mukmin. Di samping itu, Allah Swt menjanjikan pahala yang besar di sisi-Nya bagi orang-orang yang mampu bersabar. Sebagimana hal ini diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya. Beliau bersabda : “Sabar itu terletak pada awal musibah.”(H.R. AI-Bukhari dan Muslim dari Anas).
Kata musibah dalam hadist di atas secara bahasa berarti musibah yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa terduga sebelumnya. Ini artinya, peristiwa kematian yang datang dengan tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Kematian datang kepada setiap orang, dengan tiba-tiba. Tentunya, kejadian ini akan menciptakan situasi yang sangat emosional dan menyedihkan.
Terjadinya musibah dalam bentuk apapun dan dalam keadaan bagaimana-pun merupakan bumbu kehidupan yang membuat hidup semakin penuh warna. Untuk itu, kita harus selalu siap menghadapinya, karena dengan musibah, Allah Swt. akan menilai dan mengukurkadarkeimanan hamba-Nya. Sebagimana hal ini ditegaskan dalam firman-Nya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. ?” (QS. AI-Ankabut: 2).
Firman Allah Swt. ini dipertegas oleh sabda Nabi Saw. yang artinya : “Siapa yang dikehendaki Allah untuk dianugrahi kebaikan, maka ia akan diberi cobaan oleh-Nya.” (HR. AI-Bukhari dari Abu Hurairah).
Penguasaan emosi dan pengendalian diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia dapat berupa menahan marah. Seseorang boleh saja marah, bahkan pada saat-saat tertentu, mungkin ia wajib marah. Ketika seseorang mendapatkan anaknya yang sudah genap berumur 10 tahun, yang masih saja belum mau mengerjakan shalat wajib, maka sang ayah harus memarahi anaknya, bahkan sampai diizinkan untuk memukulnya. Nabi Saw bersabda : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukullah ketika mereka berumur 10 tahun, karena melalaikan shalat. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim adri Ibn ‘Amr).
Ketika menghadapi suatu permasalahan dalam interaksi sosial, tidak jarang emosi lebih berperan, sehingga emosi lebih dominan daripada rasio. Bila hal itu terjadi, maka akibat lanjutannya adalah perang mulut atau mungkin juga adu fisik. Sekedar adu pandangan mata yang tak sengaja antara dua anak remaja, tapi dibarengi dengan emosi dan harga diri yang bukan pada ukurannya, dapat berlanjut pada perkelahian dan pembunuhan. Yang satu ingin menunjukkan kekuatannya dan yang lain tidak mau kalah. Alangkah baiknya, kalau kedua anak remaja itu sadar, bahwa keakuan dan kekuatan, bukan dipertontonkan dalam konflik fisik dan adu otot, tetapi diukuroleh kemampuan menahan dan merendam amarah. Sebagimana yang disabdakan oleh Nabi Saw. dalam haditsnya : “Bukanlah orang kuat itu yang mempertontonkan otot dalam perkelahian, sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai (emosi) dirinya pada saat ia sedang marah.” (HR. AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Hadist ini menunjukkan bahwa melawan emosi yang telah melahirkan hawa nafsu adalah lebih berat daripada melawan musuh secara fisik. Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya tatkala mereka baru pulang dari medan laga. Beliau bersabda : “Kamu baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah yang dimaksud dengan jihad besar itu.” Beliau, menjawab, “Jihad besar adalah perang melawan emosi dan hawa nafsu.”
Mu’adz bin Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Siapa yang dapat menahan amarahnya pada saat ia mampu dan memungkinkan untuk melampiaskan-nya, maka Allah Swt. past! akan mengundangnya di depan orang-orang banyak pada hari kjamat, dan ia dibebaskan untuk mempersunting bidadari yang menggetarkan hatinya.”(HR. Abu Dawucj dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.).
Dalam riwayat lainnya disebutkan : “Orang tersebut akan dipenuhi hatinya oleh Allah Swt. dengan rasa aman dan iman”. Sementara dalam riwayat Ibn Umar disebutkan : “Orang yang mampu menahan amarahnya maka Allah Swt. akan menutupi aibnya”.
Tingginya tuntutan hidup membuat setiap orang merasa terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan hidupnya. Hal ini berarti ia berhadapan dengan tantangan hidup. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang suka mencari tantangan. Tuntutan dan tantangan sebagai sebab akibat yang merupakan hukum alam dan sunahtullah, akan terjalin berberkelindan pada kehidupan manusia. Karena itu, memerangi hawa nafsu dan menahan diri sangat diperlukan ketika terjadi pergumulan antara tuntutan dan tantangan hidup.

Bagikan

Jangan lewatkan

Mengatasi Marah (Maw Berubah Kha)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.